Putri Tangguk

Putri Tangguk merupakan seorang petani yang tinggal di Negeri Bunga Tanjung, Kecamatan Sertaau Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia. Ia mempunyai sawah hanya seluas tangguk, [1] tetapi sanggup menghasilkan padi yang sangat melimpah. Pada sebuahhari, Putri Tangguk dikejutkan dengan sebuah momen aneh di sawahnya. Ia mendapati tanaman padinya telah berubah menjadi rerumputan tebal. Mengapa tanaman padi Putri Tangguk dengan cara ajaib berubah menjadi rumput? Temukan jawabannya dalam cerita Putri Tangguk berikut ini!

Alkisah, di Negeri Bunga, Kecamatan Sertaau Kerinci Jambi, ada seorang perempuan bernama Putri Tangguk. Ia nasib bersama suami serta tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya menanam padi di sawahnya yang hanya seluas tangguk. Meskipun hanya seluas tangguk, sawah itu bisa menghasilkan padi yang sangat tak sedikit. Setiap habis dipanen, tanaman padi di sawahnya timbul lagi serta menguning. Dipanen lagi, timbul lagi, serta begitu seterusnya. Berkah ketekunannya bekerja siang serta malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar telah hampir penuh. Tetapi, kesibukan itu membikinnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. Ia terkadang lupa mandi jadi dakinya bisa dikerok dengan sendok. Ia juga tak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya serta mengurus ketujuh orang anaknya.

Pada sebuahmalam, saat ketujuh anaknya telah tidur, Putri Tangguk mengatakan terhadap suaminya yang sedang berbaring di atas pembaringan.

“Bang! Adik telah capek setiap hari menuai padi. Adik ingin mengurus anak-anak serta bersilaturahmi ke tetangga, sebab kami semacam terkucil,” ungkap Putri Tangguk terhadap suaminya.

“Lalu, apa rencanamu, Dik?” tanya suaminya dengan suara pelan.

“Begini Bang! Besok Adik ingin memenuhi ketujuh lumbung padi yang ada di samping rumah untuk persediaan kebutuhan kami berbagai bulan ke depan,” jawab Putri Tangguk.

“Baiklah kalau begitu. Besok anak-anak kami ajak ke sawah untuk menolong mengangkut padi pulang ke rumah,” jawab suaminya.

“Ya, Bang!” jawab Putri Tangguk.

Berbagai saat kemudian, mereka pun tertidur lelap sebab kelelahan seusai bekerja hampir sehari semalam. Ketika malam terus larut, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hujan itu baru berhenti saat hari mulai pagi. dampaknya, semua jalan yang ada di kampung maupun yang menuju ke sawah menjadi licin.

Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami serta ketujuh anaknya pergi ke sawah untuk menuai padi serta mengangkutnya ke rumah. Dalam perjalanan menuju ke sawah, tiba-tiba Putri Tangguk terpelesat serta terjatuh. Suaminya yang berlangsung di belakangnya segera menolongnya. Meski telah ditolong, Putri Tangguk tetap marah-marah.

“Jalanan tak lebih ajar!” hardik Putri Tangguk.

“Baiklah! Padi yang aku tuai kelak bakal aku serakkan di sini sebagai pengganti pasir supaya tak licin lagi,” tambahnya.

Seusai menuai padi yang tak sedikit, hampir semua padi yang mereka bawa diserakkan di jalan itu jadi tak licin lagi. Mereka hanya mengangkat pulang sedikit padi serta memasukkannya ke dalam lumbung padi. Sesuai dengan janjinya, Putri Tangguk tak sempat lagi menuai padi di sawahnya yang seluas tangguk itu. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Ia membikin baju untuk dirinya sendiri, suami, serta untuk anak-anaknya. Bakal tetapi, kesibukannya menenun kain tersebut lagi-lagi membikinnya lupa bersilaturahmi ke rumah tetangga serta mengurus ketujuh anaknya.

Pada sebuahhari, Putri Tangguk keasyikan menenun kain dari pagi hingga sore hari, jadi lupa memasak nasi di dapur untuk suami serta anak-anaknya. Putri Tangguk tetap saja asyik menenun hingga larut malam. Ketujuh anaknya pun tertidur semua. Seusai berakhir menenun, Putri Tangguk pun ikut tidur di samping anak-anaknya.

Pada saat tengah malam, si Bungsu tersadar sebab kelaparan. Ia menangis minta makan. Untungnya Putri Tangguk bisa membujuknya jadi anak itu tertidur kembali. Selang berbagai waktu, anak-anaknya yang lain pun tersadar dengan cara bergiliran, serta ia sukses membujuknya untuk kembali tidur. Tetapi, ketika anaknya yang Sulung bangun serta minta makan, ia bukan membujuknya, melainkan memarahinya.

“Hei, kalian itu telah besar! Tak butuh dilayani semacam anak kecil. Ambil sendiri nasi di panci. Kalau tak ada, ambil beras dalam kaleng serta masak sendiri. Apabila tak ada beras, ambil padi di lumbung serta tumbuk sendiri!” seru Putri Tangguk terhadap anak sulungnya.

Oleh sebab telah kelaparan, si Sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Tetapi, ketika masuk ke dapur, ia tak menemukan nasi di panci maupun beras di kaleng.

“Bu! Nasi serta beras telah habis semua. Tolonglah tumbukkan serta tampikan padi!” pinta si Sulung terhadap ibunya.

“Apa katamu? Nasi serta beras telah habis? Seingat ibu, tetap ada nasi dingin di panci sisa kemarin. Beras di kaleng pun semacamnya tetap ada untuk dua kali tanak. Tentu ada pencuri yang memasuki rumah kita,” kata Putri Tangguk.

“Ya, telahlah kalau begitu. Tahan saja laparnya hingga besok pagi! Bunda malas menumbuk serta menampi beras, apalagi malam-malam begini. Kelak mengganggu tetangga,” ucap Putri Tangguk.

Usai mengatakan begitu, Putri Tangguk tertidur kembali sebab kelelahan seusai menenun seharian penuh. Si Sulung pun kembali tidur serta ia wajib menahan lapar hingga pagi hari.

Keesokan harinya, ketujuh anaknya bangun dalam keadaan perut keroncongan. Si Bungsu menangis merengek-rengek sebab telah tak kuat menahan lapar. Demikian pula, keenam anaknya yang lain, semua kelaparan serta minta makan. Putri Tangguk pun segera menyuruh suaminya mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk. Sang Suami pun segera menuju ke lumbung padi yang berada di samping rumah. Betapa terkejutnya sang Suami saat membuka salah satu lumbung padinya, ia mendapati lumbungnya kosong.

“Hei, ke mana padi-padi itu?” gumam sang Suami.

Dengan perasaan panik, ia pun mengecek satu per satu lumbung padinya yang lain. Tetapi, seusai ia membuka semuanya, tak sebutir pun biji padi yang tersisa.

“Dik…! Dik…! Cepatlah kemari!” seru sang Suami terbuktigil Putri Tangguk.

“Ada apa, Bang?” tanya Putri Tangguk dengan perasaan cemas.

“Lihatlah! Semua lumbung padi kami kosong. Tentu ada pencuri yang mengambil padi kita,” jawab sang Suami.

Putri Tangguk hanya ternganga penuh keheranan. Ia seolah-olah tak percaya pada apa yang baru disaksikannya.

“Benar, Bang! Tadi malam pencuri itu juga mengambil nasi kami di panci serta beras di kaleng,” tambah Putri Tangguk.

“Tapi, tak apalah, Bang! Kami tetap mempunyai harapan. Bukankah sawah kami merupakan gudang padi?” kata Putri Tangguk.

Usai mengatakan begitu, Putri Tangguk langsung hebat tangan suaminya lalu berlari menuju ke sawah. Sesampai di sawah, betapa sedihnya Putri Tangguk, sebab harapannya telah sirna.

“Bang! Pupuslah andalan kita. Lihatlah sawah kita! Jangankan biji padi, batang padi pun tak ada. Yang ada hanya rumput tebal menutupi sawah kita,” kata Putri Tangguk.

Sang Suami pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tercengang penuh keheranan menyaksikan momen aneh itu. Dengan perasaan sedih, Putri Tangguk serta suaminya pulang ke rumah. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Selagi dalam perjalanan, Putri Tangguk mencoba merenungi sikap serta lakukanannya selagi ini. Sebelum hingga di rumah, teringatlah ia pada sikap serta perlakuannya terhadap padi dengan menganggapnya hanya semacam pasir serta menyerakkannya di jalan yang becek supaya tak licin.

“Ya… Tuhan! Itukah kesalahanku jadi kutukan ini datang terhadap kami?” keluh Putri Tangguk dalam hati.

Sesampainnya di rumah, Putri Tangguk tak bisa berbuat apa-apa. Seluruh badannya terasa lemas. Hampir seharian ia hanya duduk termenung. Pada malam harinya, ia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjenggot panjang mengenakan pakaian berwarna putih.

“Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kalian mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya sanggup mengisi dasar Sertaau Kerinci hingga ke langit. Tetapi sayang, Putri Tangguk! Kalian orang yang arogan serta takabbur. Kalian sempat meremehkan padi-padi itu dengan menyerakkannya semacam pasir sebagai pelapis jalan licin. Ketahuilah, wahai Putri Tangguk…! Di antara padi-padi yang sempat kalian serakkan itu ada setangkai padi hitam. Dirinya merupakan raja kami. Apabila hanya kami yang kalian perlakukan semacam itu, tak bakal menjadi persoalan. Tetapi, sebab raja kami juga kalian perlakukan semacam itu, maka kami semua marah. Kami tak bakal datang lagi serta tumbuh di sawahmu. Masa depan kalian serta keluargamu bakal sengsara. Rezekimu hanya bakal semacam rezeki ayam. Hasil kerja sehari, lumayan untuk dimakan sehari. Kalian serta keluargamu tak bakal bisa makan apabila tak bekerja dulu. Nasibmu sangatlah bakal semacam ayam, mengais dulu baru makan….” ucap lelaki tua itu dalam mimpi Putri Tangguk.

Putri Tangguk belum sempat mengatakan apa-apa, orang tua itu telah menghilang. Ia tersadar dari tidurnya saat hari mulai siang. Ia sangat sedih merenungi semua ucapan orang tua yang datang dalam mimpinya semalam. Ia bakal menjalani nasib bersama keluarganya dengan kesengsaraan. Ia sangat rugii semua lakukanannya yang arogan serta takabbur dengan menyerakkan padi untuk pelapis jalan licin. Tetapi, apalah pengertian sebuah penyesalan. Rugi kemudian timerupakan guna.

Demikian cerita Putri Tangguk dari Provinsi Jambi. Cerita di atas termasuk mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang bisa dijadikan pedoman dalam kenasiban sehari-hari. Di kalangan masyarakat Jambi, mitos ini tak jarang dijadikan nasihat orang tua terhadap anak-anaknya supaya tak menyia-nyiakan padi.

Pesan moral yang bisa dipetik dari cerita di atas merupakan kekurang baikan sifat arogan serta takabbur. Sifat ini tercermin pada sikap serta perilaku Putri Tangguk yang telah meremehkan padi dengan tutorial menyerakkannya di jalan yang licin sebagai pengganti pasir. Dampaknya, nasibnya menjadi sengsara sebab padi-padi tersebut murka kepadanya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Putri Tangguk"

Posting Komentar