Datuk Darah Putih

Datuk Darah Putih adalah seorang hulubalang dari sebuah kerajaan di negeri Jambi, Indonesia. Ia populer sebagai seorang hulubalang yang pemberani, jujur, sakti, dan cendikia. Pada sebuahwaktu, kerajaan itu diserang oleh Belanda. Berkah kesaktian dan keberanian Datuk Darah Putih, pasukan Belanda sukses dikalahkan. Bagaimana Datuk Darah Putih bisa mengalahkan mereka? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Datuk Darah Putih berikut ini!
Datuk Darah Putih
Alkisah, di negeri Jambi, ada sebuah kerajaan yang mempunyai seorang hulubalang bernama Datuk Darah Putih. Diberi nama demikian, sebab apabila terluka darah yang keluar dari tubuhnya berwarna putih. Ia seorang hulubalang yang populer dengan kejujuran, kepandaian, keberanian, dan kesakstiannya. Raja negeri itu sangat hormat kepadanya, berkah kepatuhan dan performanya menyelesaikan segala tugas yang diembannya.

Pada sebuahhari, sang Raja memerintahkan Datuk Darah Putih untuk membentuk pasukan inti kerajaan.

“Wahai, Datuk! Kumpulkan beberapa prajurit opsi yang mempunyai ketangkasan perang yang tinggi, jujur, setia pada raja, rela berkorban untuk kepentingan negeri, dan pantang menyerah dan mengeluh. Seusai itu, latihlah mereka supaya menjadi prajurit yang tangguh semacam dirimu!” titah Tuan Raja.

“Daulah, Baginda!” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.

Datuk Darah Putih pun segera melaksanakan perintah raja. Tak susah baginya untuk memilih prajurit yang bakal dijadikan pasukan inti. Sebab, sebagai seorang hulubalang, ia telah mengenal semua kepribadian dan performa perang semua prajuritnya. Dalam waktu singkat, Datuk Darah Putih telah sukses mengumpulkan puluhan prajurit opsi, lalu melatih performa perang mereka dengan penuh kesungguhan. Seusai hampir setahun berlatih dengan cara terus-menerus, seluruh anak buah pasukan inti tersebut telah menjadi prajurit yang tangguh, pemberani, dan siap mengorbankan jiwa raganya untuk negeri mereka.

Pada sebuahhari, sang Raja mendengar laporan dari seorang mata-mata bahwa Belanda bakal datang menyerang negeri mereka.

“Gawat, Baginda!” lapor seorang mata-mata kerajaan yang datang tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Prajurit? Kenapa kalian panik semacam itu? Katakanlah!” desak sang Raja.

“Ampun, Baginda! Pasukan Belanda bakal menyerbu negeri kita. Mereka sedang menuju kemari melewati jalur laut,” lapor mata-mata itu.

Mendengar laporan itu, sang Raja terdiam, lalu beranjak dari singgasananya. Ia kemudian mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat.

“Mmm… kedatangan mereka pasti ingin mengeruk kekayaan negeri ini. Mereka adalah penjajah yang serakah dan suka memperlawankan domba penduduk negeri,” kata sang Raja yang telah mengerti watak penjajah Belanda.

“Apa yang wajib kami perbuat, Tuan?” tanya Datuk Darah Putih.

“Sebab mereka melewati jalur laut, pasti hanya satu jalan yang bisa dilewati, yaitu Selat Berhala,” ungkap sang Raja.

“Berarti kami wajib menghadang mereka di kurang lebih Pulau Berhala, Tuanku,” sambung Datuk Darah Putih yang telah mengerti maksud perkataan sang Raja.

“Benar, Datuk! Besok pagi-pagi sekali, berangkatlah ke sana. Hadang dan hancurkan mereka di Selat Berhala. Siapkan seluruh pasukan inti dan beberapa prajurit lainnya!” titah sang Raja.

“Daulah, Baginda! Perintah segera hamba laksanakan,” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.

Hulubalang sakti itu pun segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyiapkan segala peralatan perang yang diperlukan semacam pedang, tombak, dan keris. Mereka juga menyiapkan bekal makanan, sebab diperkirakan tetap dua hari lagi kapal pasukan Belanda baru memasuki Selat Berhala. Mereka wajib pergi lebih awal untuk mempersiapkan benteng pertahanan di Pulau Berhala.

Seusai semua peralatan dan bekal disiapkan, pasukan kerajaan yang bakal pergi berperang diperintahkan beristirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga seusai seharian meperbuat persiapan. Sementara prajurit lainnya tetap berjaga-jaga di lingkungan istana dari beberapa kemungkinan yang bakal terjadi.

Di kediamannya, Datuk Darah Putih tampak sedang bercengkerama bersama istrinya yang sedang hamil tua.

“Dinda! Bagaimana kondisi anak kita?” tanya Datuk Darah Putih sambil mengelus-elus perut istrinya yang buncit.

“Baik, Kanda! Semoga nanti anak kami lahir dengan selamat,” jawab sang Istri.

“Dinda! Besok Kanda bersama pasukan kerajaan bakal pergi ke medan perang untuk bertempur melawan penjajah Belanda. Tolong jaga baik-baik anak kami yang ada di dalam rahimmu ini!” pinta Datuk Darah Putih terhadap istrinya.

“Tentu, Kanda! Dinda bakal rutin memeliharanya dengan baik. Apabila anak kami laki-laki, Dinda berharap semoga nanti ia menjadi seorang panglima yang sakti dan pemberani semacam Kanda,” ujar sang Istri dengan penuh harapan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Datuk Darah Putih bersama pasukannya telah bersiap-siap untuk pergi ke Pulau Berhala dengan memakai tiga buah jongkong (perahu alias tongkang) besar. Para keluarga istana, tergolong istri Datuk Darah Putih, ikut mengantar pasukan kerajaan tersebut hingga ke pelabuhan. Tak tampak adanya rasa kecewa sedikit pun pada wajah sang Istri. Sebelum meninggalkan pelabuhan, hulubalang sakti itu berpamitan terhadap istrinya yang sedang berdiri di samping sang Raja.

“Hati-hati, Kanda! Doa Dinda senantiasa menyertai Kanda. Apabila telah sukses menumpas para penjajah itu, cepatlah kembali!” pesan sang Istri.

“Baik, Dinda! Kanda bakal kembali membawa kemenangan untuk negeri ini,” jawab Datuk Darah Putih sambil mencium kening dan perut istrinya, lalu bergegas naik ke atas jongkong.

Beberapa hari kemudian, ketiga jongkong tersebut berlayar menuju ke Pulau Berhala. Tampak dari kejauhan para pasukan kerajaan mengayunkan tangan di atas jongkong. Para pengangkut pun membalasnya dengan lambaian tangan pula. Seusai ketiga jongkong tersebut hilang dari pandangan, barulah para pengangkut meninggalkan pelabuhan.

Seusai Datuk Darah Putih dengan pasukannya hingga di Pulau Berhala, mereka langsung mengatur strategi, membikin benteng-benteng pertahanan, dan tempat pengintaian. Jongkong-jongkong mereka tambatkan di balik batu karang besar yang ada di kurang lebih Pulau Berhala supaya tak terkesan oleh pasukan Belanda. Sambil menantikan kedatangan musuh, Datuk Darah Putih kembali menggembleng mental pasukannya.

Keesokan harinya, tampak dari kejauhan iring-iringan kapal pasukan Belanda bakal memasuki Selat Berhala.

“Datuk, musuh kami telah datang. Mereka sedang menuju kemari,” lapor seorang prajurit pengintai.

Mendengar laporan itu, Datuk Darah Putih segera menyiapkan seluruh pasukannya.

“Pasukan! Ambil posisi masing-masing! Sekaranglah saatnya kami membaktikan diri terhadap Tuan Raja dan negeri tercinta ini!” seru Datuk Darah Putih memberi semangat terhadap pasukannya.

Mendengar seruan itu, pasukan kerajaan segera menaiki ketiga jongkong mereka dan menempati posisi masing-masing. Ketika iring-iringan kapal Belanda memasuki Selat Berhala, ketiga jongkong pasukan kerajaan langsung meluncur ke arah kapal-kapal Belanda. Saat jongkong-jongkong tersebut merapat, Datuk Darah Putih beserta pasukannya segera berlompatan masuk ke dalam kapal-kapal Belanda sambil menebaskan pedang dan menusukkan keris ke arah musuh. Pasukan Belanda yang mendapat serangan mendadak itu menjadi panik. Mereka tak pernah lagi memakai bedil mereka. Untuk mengimbangi serangan dari pasukan kerajaan, mereka memakai pedang panjang. Tetapi sebab dalam kondisi tak siaga, mereka pun terdesak dan tak berdaya. Tak seorang pun dari pasukan Belanda yang selamat. Semuanya tewas terkena sabetan pedang dan tusukan keris.

Sementara dari pihak pasukan Datuk Darah Putih hanya ada beberapa prajurit yang terluka. Sebelum kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala, mereka mengambil senjata dan semua perbekalan yang ada, lalu membakar semua kapal Belanda tersebut.

Sesampainya di Pulau Berhala, pasukan Datuk Darah Putih segera memperingati kemenangan itu dengan gembira.

“Datuk! Kami wajib segera kembali ke istana untuk memberi tau kabar gembira ini terhadap Tuan Raja,” ujar seorang prajurit.

Datuk Darah Putih hanya tersenyum mendengar laporan itu.

“Ketahuilah, Prajurit! Perjuangan kami belum berakhir,” jawab Datuk Darah Putih.

“Apa maksud, Datuk? Bukankah semua pasukan Belanda telah tewas?” tanya prajurit itu tak mengerti.

“Benar katamu, Prajurit! Tapi, itu hanya sebagian kecil. Apabila Belanda tak mendengar kabar dari pasukannya yang dikirim dan kami kalahkan itu, pasti mereka bakal mengirim pasukan yang lebih besar lagi,” jelas Datuk Darah Putih.

Mendengar penjelasan itu, sang Prajurit hanya bisa manggut-manggut. Dalam hatinya mengatakan bahwa Datuk Darah Putih terbukti seorang hulubalang yang cerdik dan pandai.

“Lalu apa perbuatan kami selanjutnya, Datuk?” tanya prajurit itu.

“Iya, Datuk! Apakah kami wajib tetap di sini menantikan kedatangan pasukan Belanda selanjutnya?” sambung seorang prajurit yang lain.

“Benar, Prajurit! Menurut perdiksiku, pasukan Belanda bakal tiba di tempat ini tiga hari lagi. Oleh sebabnya, kami wajib lebih siap, sebab kami bakal menghadapi pasukan Belanda yang jumlahnya lebih besar,” ujar Datuk Darah Putih.

Nyatanya benar perdiksi Datuk Darah Putih. Tiga hari kemudian, tampak iring-iringan tiga kapal besar dengan jumlah serdadu yang lebih tak sedikit sedang memasuki Selat Berhala. Tetapi, faktor itu tak membikin Datuk Darah Putih gentar. Ia pun segera menyiapkan pasukannya untuk menghadang mereka.

“Pasukan! Demi negeri ini…, demi masa depan bani kita…, berperanglah hingga titik darah penghabisan!” seru Datuk Darah Putih menyemangati pasukannya.

“Nasib Datuk! Nasib Datuk Darah Putih!” terdengar teriakan para prajurit dengan penuh semangat.

Seusai itu, pasukan Datuk Darah Putih segera menaiki jongkong-jongkong lalu meluncur dan merapat ke kapal-kapal Belanda. Hari ini, mereka menghadapi musuh yang lebih berat. Jumlah pasukan Belanda lebih tak sedikit dibanding pasukan kerajaan, jadi pertempuran itu tampak tak seimbang. Seorang prajurit kerajaan terkadang wajib menghadapi dua hingga tiga orang serdadu Belanda.

Di haluan kapal, tampak Datuk Darah Putih dikeroyok oleh tiga orang serdadu Belanda. Tak lama, ia pun mulai terdesak dan tiba-tiba batang lehernya tersabet pedang seorang serdadu Belanda. Maka keluarlah darah putih dari lehernya itu. Tetapi, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia tetap meperbuat perlawanan.

“Prajurit! Aku terkena pedang. Bawa aku mundur dan yang lain tetaplah bertempur hingga titik darah penghabisan!” teriak Datuk Darah Putih sambil menghindari serangan serdadu Belanda.

Mendengar teriakan itu, beberapa orang prajurit opsi pun datang menolongnya. Dalam waktu singkat, ketiga serdadu Belanda tersebut tewas. Datuk Darah Putih segera dibawa ke Pulau Berhala untuk memperoleh perawatan. Sesampainya di sana, ia didudukkan di tempat yang aman dan tersembunyi. Para prajurit telah berusaha menutup luka ceonya, tetapi darah putih tetap saja keluar.

“Tolong carikan aku anak batu sengkalan untuk menutupi luka di leherku ini!” perintah Datuk Darah Putih.

Dengan sigapnya, salah seorang prajurit segera mencari batu semacam yang dimaksud ceonya itu. Tak berapa lama, prajurit itu pun kembali membawa sebuah anak batu sengkalan yang tipis, lalu menempelkannya pada luka di leher Datuk Darah Putih. Darah putih itu pun berhenti dan tak keluar lagi.

Begitu lukanya tertutup batu sengkalan, Datuk Darah Putih tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu melompat ke atas jongkong.

“Terima kasih, Prajurit! Ayo kami kembali berperang melawan penjajah!” seru Datuk Darah Putih dengan penuh semangat.

Prajurit yang menolongnya itu pun segera mengikutinya naik ke atas jongkong. Meskipun tetap terluka, Datuk Darah Putih sanggup meperbuat perlawanan. Bahkan, ia terus lincah dan gesit memainkan pedangnya, jadi tak sedikit serdadu Belanda yang terkena sabetan pedangnya. Tak berapa lama, akhirnya seluruh serdadu Belanda tewas.

“Horeee…, horeee… Kami menang!” terdengar suara gegap gempita pasukan kerajaan menyambut kemenangan itu.

Tetapi, di balik kegembiraan itu tersimpan rasa duka yang mendalam menonton kondisi Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mereka pun kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala sambil memapah Datuk Darah Putih. Berhubung hari telah sore, mereka pun memutuskan untuk beristirahat semalam di Pulau Berhala.

Keesokan harinya, Datuk Darah Putih bersama pasukannya kembali ke istana kerajaan. Sesampainya di istana, mereka disambut oleh keluarga istana dan rakyat negeri dengan perasaan duka cita. Tak sedikit orang yang iba menonton kondisi Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mengenal suaminya datang, dengan perasaan tenang dan tabah, istri Datuk Darah Putih menaruh bayinya di atas tempat tidur, lalu segera menyongsong ikut memapah suaminya dan mendekatkannya pada bayi mereka yang lahir dua hari sebelumnya.

“Kanda, Anak kami laki-laki. Lihatlah! Dirinya tampan semacam Kanda,” ujar sang Istri menghibur suaminya.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan dengan dibantu istrinya, Datuk Darah Putih membawa bayinya, kemudian mendekap dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Seusai itu, ia meletakkan bayi itu di pangkuan istrinya.

“Maafkan Kanda, Dinda! Tolong rawatlah anak kami baik-baik!” pinta Datuk Darah Putih dengan suara pelan.

Seusai itu, Datuk Darah Putih duduk di lantai rumahnya, lalu menggeletakkan tubuhnya dengan pelan. Pada saat tubuhnya terbaring itulah Datuk Darah Putih menghembuskan napasnya yang terbaru. Sang Istri hanya bisa pasrah, sebab ia sadar semua itu adalah kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.



Demikian cerita Datuk Darah Putih dari daerah Jambi. Cerita di atas tergolong mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang bisa dijadikan pedoman dalam kenasiban sehari-hari. Salah satu pesan moral yang bisa dipetik adalah pentingnya seorang pemimpin yang baik. Sifat ini tampak pada sikap dan perilaku Datuk Darah Putih. Ia senantiasa memberi semangat dan suri teladan terhadap prajuritnya. Meskipun dalam kondisi terluka, ia tetap bersemangat memimpin pasukannya dalam melawan pasukan Belanda.

Dalam kenasiban orang Melayu, pemimpin yang baik benar-benar diutamakan. Untuk itu, mereka rutin berusaha membawa pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya. Pemimpin ini diinginkan sanggup membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun kaumnya (Tenas Effendy, 2006: 653). Dalam tunjuk ajar Melayu tak sedikit disebutkan mengenai acuan dasar bagi seorang pemimpin yang baik, di antaranya:

yang dikatakan pemimpin,
mau manampin tahan berlenjin
mau bersakit tahan bersempit
mau berteruk tahan terpuruk
mau berhimpit tahan belengit
mau bersusah tahan berlelah
mau berpenat tahan bertenat
mau berkubang tahan bergumbang
mau bertungkus lumus tahan tertumus
mau ke tengah tahan menepi
mau bersusah tahan memenyesal

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Datuk Darah Putih"

Posting Komentar