Burung Punai

Si Bujang: Asal Mula Burung Punai
Ada berbagai versi mengenai cerita asal-mula Burung Punai. Setiap versi mempunyai alur cerita yang tak sama-beda. Versi cerita rakyat mengenai asal-mula Burung Punai di Kalimantan Selatan tak sama dengan cerita rakyat di Pelalawan, Riau. Cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat di Kalimantan Selatan – semacam terfoto pada cerita yang lalu dalam portal ini – mengisahkan mengenai seorang pemuda yang bernama Datu Pulut, menikah dengan seorang bidadari dari Kahyangan. Tetapi, sebab si Pemuda melanggar larangan yang sempat mereka sepakati bersama sebelum menikah, sang Bidadari pun berubah menjadi Burung Punai.

Sementara cerita rakyat mengenai asal-mula Burung Punai yang berkembang di kalangan masyarakat Pelalawan, Riau, Indonesia, mempunyai alur cerita yang tak sama. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang anak laki-laki yang bernama si Bujang, yang durhaka terhadap kedua orang tuanya. Oleh sebab kedurhakannya tersebut, Bujang dikutuk menjadi seekor Burung Punai. Apa yang menyebabkan si Bujang durhaka terhadap kedua orang tuanya? Bagaimana ceritanya hingga ia berubah menjadi seekor Burung Punai? Ingin tahu jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Si Bujang: Asal Mula Burung Punai berikut ini.

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap serta rutin berdoa terhadap Tuhan supaya anak tunggalnya itu nanti menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan serta berkegunaaan bagi masyarakat.

Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang serta mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun wajib berlangsung berhari-hari dengan mengangkat beban berat, sang Ayah tak sempat mengeluh alias merasa lelah demi ketersanjungan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan serta berpakaian sebutuhnya saja. Ia rutin berdoa terhadap Tuhan supaya senantiasa diberbagi kesehatan untuk bisa memperoleh lebih tak sedikit rezeki demi masa depan Bujang.

Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Bulan berganti Bulan. Si Bujang tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah serta cerdas. Kedua orang tuanya amat bangga serta tersanjung menonton anak tumpuan andalan mereka itu.

Seusai lumayan besar, Bujang pun diserahkan ke sebuah surau di kampung itu untuk belajar mengaji. Sejak itu ia sangat rajin pergi mengaji. Setiap hari ia pergi ke surau bersama kawan-kawannya. Apabila kampungnya dilanda banjir, Bujang diantar oleh ayahnya dengan sebuah perahu kecil. Waktu pulang ia dijemput oleh emaknya.

Ada sebuahkebiasaan di Pelalawan, apabila air surut serta tanah telah kering, semua anak-anak bermain gasing. Sebetulnya, tak sedikit orang tua yang jengkel apabila musim bergasing itu tiba. Mereka jengkel menonton anak-anak mereka yang asyik bermain gasing yang lupa segalanya. Bahkan, anak-anak mereka terkadang lupa pulang untuk makan siang.

Suatu waktu, musim bergasing itu tiba. Bujang serta kawan-kawannya asyik bermain gasing dari pagi hingga petang hari. Orang tuanya mulai gelisah. Telah kemarin hari si Bujang tak pergi mengaji. Guru mengajinya telah berkali-kali ke rumah orang tuanya menanyakan kondisinya. Hati kedua orang tuanya terus kesal menonton perangai anak tunggal yang diinginkannya itu.

Suatu hari, di saat hari telah petang, si Bujang baru pulang dari bermain gasing. Kedua orang tuanya telah menantikannya di depan pintu. Menonton si Bujang datang, emaknya menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Jang, telah berapa lama kalian tak pergi mengaji ke surau? Kalian rutin asyik bermain gasing jadi lupa segala-galanya. Apa kalian tak jemu-jemu bermain gasing, Jang? Kalian mau emak memberimu makan gasing?” Mendengar omelan emaknya, si Bujang hanya diam serta menunduk.

Usai ibunya mengomelin si Bujang, saat ini giliran ayahnya. “Jang, ayah tengok kalian asyik bermain gasing saja. Hingga-sampai kalian lupa makan-minum, apalagi mengaji. Sejak bermain gasing, kalian telah tak sempat lagi menolong emakmu. Apa kalian bisa kenyang makan gasing?” ucap sang ayah.

Si Bujang tak bisa mengatakan apa-apa. Ia tak berani membantah kata-kata ayahnya, sebab ia terbukti merasa bersalah. Tetapi, omelan kedua orang tuanya itu tak mengecap dalam hatinya. Semua kata-kata orang tuanya hanya masuk melewati telinga kanan serta keluar dari telinga kiri. Ketika ayahnya pergi ke ladang, ia pergi lagi bermain gasing. Begitulah setiap hari yang diperbuatnya. Pendeknya, Bujang telah lupa segalanya. Orang Pelalawan mengatakan, “kalau anak telah kena hantu gasing, ia tak bisa bekerja apa pun.”

Telah kemarin hari si Bujang tak pulang. Ayahnya telah tak mau lagi mencarinya. Ia telah tak perduli lagi dengan kelakuan anaknya. Pada sebuahmalam, sang Ayah mengatakan terhadap istrinya, “Baranghari inilah resikonya terlalu memanjakan anak. Lihatlah si Bujang anak kita, terus dimanja terus menjadi-jadi. Oleh sebab itu, mulai kini kami biarkan saja, tak usah kami hiraukan.” Mendengar ujaran suaminya, sang Istri pun mengangguk-angguk. Ia merasa bersalah, sebab terlalu memanjakan si Bujang.

Demikianlah, terus hari si Bujang terus nakal. Ia telah lupa segalanya. Ia terus jarang pulang ke rumah serta tak sempat lagi mengaji ke surau. Hati orang tuanya terus sedih. Anak semata wayang, tumpuan andalan mereka, telah tak bisa diinginkan lagi. Sirnalah semua andalan kedua orang tuanya. Mereka sangatlah sedih terhadap perilaku si Bujang. Terus hari, hati mereka pun terus kesal serta jengkel. Mereka tak sempat lagi memasak nasi untuk si Bujang sebelum mereka ke ladang.

Pada sebuahhari sebelum pergi ke ladang, ibunya memasak gasing, serta tali gasingnya ia gulai untuk si Bujang. Menonton kedua orang tuanya telah pergi ke ladang, si Bujang pulang ke rumahnya. Oleh sebab telah kelaparan, ia segera membuka periuk, dilihatnya sebuah gasing. Lalu ia membuka belanga, dilihatnya gulai tali gasing. Oleh sebab merasa sedih, menangislah si Bujang sambil bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Tumbuh bulu sehelai, lalu ia menyanyi lagi:
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Tumbuh bulu sehelai lagi, ia pun terus bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Demikian si Bujang terus bernyanyi, satu demi satu bulu tumbuh di badannya. Oleh sebab terus bernyanyi, lama-kelamaan ratalah seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Maka berubahlah si Bujang menjadi seekor Burung Punai. Ia pun terbang ke arah jendela, lalu ia terbang ke bumbung atap, kemudian ia terbang tinggi ke udara. Dari udara tampaklah olehnya ladang orang tuanya. Kemudian ia terbang ke arah ladang itu serta hinggap di atas sebuah pohon kayu ara yang tinggi. Dari atas pohon itu terkesan ayah serta ibunya sedang asyik menyiangi rumput. Ia pun bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Mendengar nyanyian Burung Punai pandai berkata itu, bunda Bujang mengatakan terhadap suaminya, “Bang, coba dengarkan suara burung yang bernyanyi di atas pohon itu! Semacamnya suara anak kami si Bujang.” Ayah Bujang langsung berdiri serta menghentikan kegiatannya menyiangi rumput. Dipasangnya telinganya baik-baik untuk memastikan apabila suara burung itu merupakan suara anaknya.
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Seusai mendengarkan suara itu dengan jelas, ayah Bujang pun yakin bahwa itu merupakan suara Bujang. “Benar, Adikku! Itu suara anak kita,” kata sang Ayah dengan yakin.

Maka berteriaklah emaknya terbuktigil si Bujang. “Nak, kemarilah! Ini nasi… !” Dari atas pohon kayu ara itu, burung punai itu menjawab, “Tidak, Emak…! Saya telah menjadi Burung Punai. Saya makan buah kayu ara.” Seusai mengatakan begitu, burung itu pun mematuk serta memakan buah ara dari satu dahan ke dahan yang lain. Sang Ayah sangat kasihan menonton hidup anaknya itu. Ia pun mengambil kapak serta memangkas pohon tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu pun pindah ke pohon yang lain. Kemudian ia bernyanyi lagi.
Sing… Tali gasing
alit gasing serta buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
“Kemarilah, anakku! Ini emak bawakan nasi untukmu!” bujuk emaknya supaya si Bujang yang telah menjadi Burung Punai itu mau mendekat. “Tidak, Emak! Saya telah menjadi burung. Saya makan buah kayu ara,” jawab Burung Punai itu menolak ajakan emaknya.

Menonton Burung Punai itu tak mau mendekat, Ayah Bujang memangkas pohon ara tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu terbang lagi ke pohon ara lainnya. Kemudian bernyanyi lagi dengan nada serta lagu yang sama. Begitulah seterusnya, setiap ayahnya memangkas pohon tempat ia hinggap, Burung Punai itu pindah ke pohon yang lainnya serta kemudian benyanyi.

Tak terasa, terus jauh kedua orang tuanya meninggalkan ladangnya. Hingga pada sebuahwaktu perbekalan mereka sangatlah telah habis. Sementara jalan untuk pulang, mereka telah tak tahu lagi. Oleh sebab telah berhari-hari tak makan, kedua orang tua Bujang akhirnya meninggal di dalam hutan. Sementara si Bujang yang durhaka itu masih menjadi Burung Punai selama-lamanya.

Cerita rakyat di atas tergolong ke dalam cerita teladan yang mengandung kualitas-kualitas moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua kualitas moral yang bisa dipetik dari cerita di atas, yaitu pentingnya mendidik anak serta dampak menjadi anak durhaka. Sikap yang mementingkan pendidikan bagi anak tercermin pada sikap kedua orang tua si Bujang yang senantiasa bekerja keras mencari nafkah tanpa mengetahui lelah demi masa depan anaknya. Sementara sifat durhaka tercermin pada sikap si Bujang yang tak mau mendengarkan kata-kata orang tuanya. Dampaknya, ia menjelma menjadi seekor Burung Punai.

Bagi orang Melayu, mendidik serta membela anak amatlah diutamakan. Tujuannya merupakan supaya anak-anak mereka nanti “menjadi orang”, yakni menjadi manusia sempurna lahiriah serta batiniah. Para orang tua berharap supaya anak mereka menjadi “anak bertuah” yang bisa mengangkat ketersanjungan, kelapangan, kerukunan, serta kesejahteraan baik bagi keluarga maupun bagi masyarakatnya. Orang tua-tua Melayu mengatakan, “kalau anak menjadi orang, kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri”. Ungkapan lain mengatakan, “tuahnya selilit kepala mujurnya selilit pinggang, ke tengah menjadi manusia ke tepi menjadi orang.”

Anak yang telah “menjadi manusia” alias “menjadi orang” disebut pula “anak bertuah”, sebab mereka bisa mendatangkan ketersanjungan, kebanggaan, serta keberuntungan bagi keluarga, masyarakat, bangsa serta negaranya. Sebaliknya, anak yang durhaka, sesat, serta jahat, tidak hanya mencoreng muka orang tua, juga mengaibmalukan kerabat serta merusak masyarakatnya.

Terkadang, kedurhakaan sang anak dianggap kesalahan orang tua yang tak sanggup mendidik, mengajar, serta membela anaknya dengan cara baik serta benar. Tetapi, terkadang pula, kedurhakaan itu datang dari si anak itu sendiri. Meskipun orang tuanya telah bersulit payah mendidik serta mengajarnya, si anak masih saja bandel serta tak mau mendengar nasehat orang tuannya. Faktor inilah yang terjadi pada diri si Bujang dalam cerita di atas. Meskipun ayahnya telah bersulit payah mencari nafkah untuk modal pendidikannya, si Bujang masih saja durhaka terhadap kedua orang tuanya.

Oleh sebab pentingnya mendidik serta membela anak, tak sedikit petuah mandat yang berkaitan dengan anak, yang diwariskan dalam adat Melayu. Tenas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” tak sedikit menyatakan mengenai petuah mandat mendidik serta membela anak, antara sebagai berikut:
anak dididik pada yang baik
diajar pada yang benar
dibela pada yang mulia
dituntun pada yang santun
ditunjuk pada yang elok
dipelihara pada yang sempurna
dijaga pada yang berkegunaaan

anak dididik dengan kasih,
kasih jangan berlebih-lebihan
kasih berlebih membutakan

anak dididik dengan keras,
tetapi jangan terlalu keras
terlalu keras mengangkat naas

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Burung Punai"

Posting Komentar