Burung Moopoo

Burung Moopoo
Minahasa yang dahulu dikenal dengan Malesung adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Di kabupaten ini nasib beragam tipe binatang langka serta khas Minahasa. Salah satu binatang khas Minahasa adalah burung moopoo. Konon, burung moopoo ini adalah jelmaan seorang anak laki-laki. Mengapa anak laki-laki itu menjelma menjadi burung moopoo? Kisahnya bisa Kamu ikuti dalam cerita rakyat Asal Usul Burung Moopoo berikut ini.

Alkisah, di sebuah daerah di Minahasa, Sulawesi Utara, nasiblah seorang kakek bersama dengan cucu laki-lakinya yang bernama Nondo. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di tepi hutan lebat. Untuk memenuhi keperluan mereka sehari-hari, sang Kakek berangkat ke hutan mencari hasil hutan serta menjualnya ke pasar. Sementara Nondo hanya bisa menolong kakeknya memasak serta membersihkan rumah, sebab kakinya pincang. Kedua orang tua Nondo meninggal dunia ketika ia tetap kecil. Sejak itu, Nondo diasuh oleh kakeknya sampai dewasa.

Setiap hari Nondo rutin berkecewa hati. Ia ingin sekali menolong kakeknya mencari kayu bakar di hutan, tetapi apa daya kakinya tak sanggup berlangsung jauh. Ia juga ingin sekali menyaksikan sendiri binatang-binatang yang nasib di hutan sebagaimana yang tak jarang diceritakan oleh kakeknya setiap berakhir makan malam.

Setiap kakeknya bercerita, Nondo rutin mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia hanya bisa membayangkan semacam apakah binatang-binatang yang diceritakan kakeknya itu. Ia juga tak jarang bermimpi berjumpa dengan binatang-binatang itu. Bahkan, ia kerap menirukan bunyi burung-burung yang diceritakan kakeknya.

Pada sebuahhari, semacam biasanya, sang Kakek hendak berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar.

”Kek! Bolehkah Nondo ikut ke hutan bersama Kakek?” pinta Nondo terhadap kakeknya.

”Kamu di rumah saja, Cucuku” jawab sang Kakek.

”Tapi, Kek! Nondo ingin sekali menonton binatang-binatang yang tak jarang Kakek ceritakan itu.”

”Jangan, Cucuku! Bukankah kakimu sedang sakit? Kakek khawatir dengan kesehatanmu.”

”Kek! Nondo mohon, izinkanlah Nondo berangkat ke hutan bersama Kakek sehari ini saja,” bujuk Nondo sambil merengek-rengek.

Oleh sebab kasihan menonton Nondo, akhirnya kakeknya pun mengizinkannya.

”Baiklah! Kamu boleh ikut bersama Kakek, tapi berakhirkan dulu pekerjaan rumahmu,” ucap sang Kakek.

Dengan perasaan bahagia serta penuh semangat, Nondo segera membersihkan rumah serta memasak untuk makan siang sepulang dari hutan. Berbagai saat kemudian, Nondo telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

”Kek! Ayo kami berangkat! Pekerjaan Nondo telah berakhir,” seru Nondo.

”Ya!” jawab sang Kakek pendek dengan perasaan khawatir.

Seusai itu, berangkatlah mereka ke hutan. Sang Kakek berlangsung di depan, sedangkan Nondo mengikutinya dari belakang. Ketika memasuki hutan, Nondo tak jarangkali tertinggal oleh kakeknya, sebab tidak hanya kakinya pincang, ia juga tak jarang berhenti setiap menonton binatang. Bahkan, ia kerap bermain-main serta menirukan suara binatang yang ditemuinya. Oleh sebab keasyikan bermain-main dengan binatang itu, jadi ia terus jauh tertinggal oleh kakeknya.

Awalnya Nondo tak menyadari keadaan itu. Ketika hari menjelang sore, ia baru terbangun apabila ia tinggal sendirian di tengah hutan. Hari pun terus gelap, suasana hutan terus menyeramkan dengan suara-suara binatang yang menakutkan.

”Kakek…! Kakek….! Kakek di mana…?” teriak Nondo terbuktigil kakeknya sambil menangis.

Berbagai kali Nondo berteriak, tetapi tak ada jawaban sama sekali. Ia mencoba mencari jalan pulang ke rumah, tetapi terus jauh ia berlangsung terus jauh masuk ke tengah hutan. Ia pun bertambah bimbang serta tersesat di tengah hutan.

Malam terus larut, Nondo belum juga menemukan kakeknya. Ia pun terus takut oleh suara-suara burung yang bersahut-sahutan, semacam burung uwak, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden serta burung hantu. Apalagi ketika ia mendengar suara burung kuow yang keras serta menyeramkan. Ia pun menangis serta berteriak sekeras-kerasnya supaya suaranya didengar oleh kakeknya. Tetapi, usahanya sia-sia, sebab tak mendapat jawaban sama sekali.

Sementara itu sang Kakek menjadi panik ketika menyadari cucunya telah tak ada lagi di belakangnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan cucu kesayangannya itu.

”Nondo…! Nondo…! Kamu di mana?” teriak sang Kakek.

Berbagai kali pula kakek itu berteriak, tetapi tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang, sebab mengira cucunya telah kembali ke rumah. Tetapi sesampai di rumah, ia tak menemukan cucunya. Pada pagi harinya, sang Kakek kembali ke hutan untuk mencari cucunya. Sampai sore hari, ia berkeliling di tengah hutan itu sambil berteriak-teriak terbuktigil cucunya, tetapi tak juga menemukannya. Oleh sebab merasa putus asa, akhirnya ia pun kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mendengar suara yang aneh.

`moo-poo…, moo-poo…, moo-poo….!” terdengar suara burung aneh itu.

”Suara binatang apakah itu? Semacamnya baru hari ini aku mendengarnya,” gumam Kakek Nondo.

Oleh sebab penasaran, kakek itu segera mencari sumber suara aneh itu. Seusai berlangsung berbagai langkah, ia pun menemukannya. Nyatanya suara itu adalah suara seekor burung yang sedang sampaip di atas pohon. Kakek itu terus berlangsung mendekati pohon untuk menonton burung itu lebih dekat.

”Burung apakah itu? Telah puluhan tahun aku mencari kayu di hutan ini, tapi aku belum sempat menonton tipe burung semacam itu,” gumamnya.

Sementara burung itu terbang dari satu cabang ke cabang yang lain sambil memerhatikan sang Kakek serta mengeluarkan suara, ”moo-poo”.

Semula kakek Nondo tak mengerti maksud suara itu. Tetapi seusai lama memerhatikan suara itu, ia pun mulai menyadari apabila burung itu terbuktigilnya opoku (kakekku). Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memantau burung itu. Seusai ia amati, rupanya kaki burung itu pincang. Tiba-tiba kakek itu menangis sebab teringat cucunya. Ia yakin bahwa burung itu adalah jelmaan cucunya, Nondo. Sesuai dengan suara yang dikeluarkan, maka burung itu diberi nama moopoo. Sampai saat ini, burung moopoo bisa ditemukan di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Burung Moopoo"

Posting Komentar